Monday, September 21, 2009

Lebaran, Sebuah Simbol Pesta Pora atau Ungkapan Rasa Syukur Setelah Ramadhan?

Lebaran merupakan suatu tradisi yang ada di Indonesia, Nabi Muhammad sendiri tidak merayakan lebaran seperti kita, yang ada Nabi menjalankan shalat Ied seperti layaknya shalat sunah lainnya, dan kembali ke rumah seperti biasa, sedangkan tradisi berpesta dan bermaaf-maafan hanya dibuat oleh orang Indonesia saja. Bahkan kalau ada yang bertengkar mereka akan bilang "Ntar aja ah maafannya kalau sudah lebaran". Wah, padahal Islam tidak mengajarkan seperti itu, meminta maaf justru harus dilakukan saat itu juga dan bukan menundanya saat ada moment-moment tertentu seperti lebaran misalnya.
Sebagian besar agama penduduk Indonesia adalah islam, namun terasa sekali jika pemahaman yang dimiliki masyarakat muslim Indonesia masih sedikit sekali. Kebanyakan berpatokan pada keputusan dan ungkapan kyai atau ustadz yang sebagai manusia tentu saja bisa salah tetapi pemahaman tersebut sudah dianggap sebagai sesuatu yang betul dan malas untuk membetulkannya. Contohnya saja saat lebaran ada ucapan Minal 'Aidin Wal Faizin. Ucapan ini biasanya diartikan sebagai Mohon Maaf Lahir Batin karena kalimat ini mengikuti ucapan setelah Minal 'Aidin Wal Faizin, belum lagi penulisan ejaan yang salah. Tetapi saya tidak akan membahas tentang penulisan dan pemahaman yang salah tentang ucapan lebaran, saya yakin di blog-blog lain sudah banyak ditulis tentang hal ini dengan pembahasan yang lebih rinci dan jelas.
Saya hanya tertarik menatap lebaran sebagai simbol dari berakhirnya bulan ramadhan.
Kita bisa melihat ke sekeliling kita, termasuk juga di rumah emak saya. Setiap lebaran menjelang setiap rumah menjadi sibuk, sibuk ke pasar untuk membeli ketupat dan bahan makanan lainnya, sibuk ke toko dan mall untuk membeli pakaian baru atau mukena dan sarung baru, sibuk membuat kue dan penganan untuk disajikan di meja sebanyak-banyaknya, sibuk mempercantik rumah dengan cat mengkilat, furniture baru dan gorden baru, sibuk menanti THR dari kantor, atasan, rekanan atau parsel dari relasi. Kita bisa melihat kalau seminggu menjelang lebaran kita justru lebih banyak melihat manusia berada di pasar dan mall ketimbang di masjid. Membayar zakat pun dilakukan di malam terakhir dan bahkan hampir terlupa. Apakah hal ini yang sesungguhnya diharapkan oleh Allah SWT?
Seorang teman yang bekerja pada perusahaan pemberi kredit yang cukup terkenal di Pontianak pernah sedikit curhat kepada saya.

Teman: "Mba, klo lagi lebaran gini di kantor sibuk, orang-orang banyak yang masukin aplikasi"
Saya: "O ya? Orang Pontianak kaya-kaya dong," ungkap saya sambil lalu.
Teman: "Nggak juga sih, klo sebulan sesudah lebaran bagian penagihan dan sita justru lebih sibuk"
Saya: "Wah, banyak yang ga sanggup bayar ya?" tanya saya mulai antusias.
Teman: "Iya, biasalah orang sini, klo lebaran kredit sofa baru, cuma untuk dipajang pas lebaran, gitu lebaran selesai ga sanggup bayar, ya terpaksa di tarik lg barangnya."
Saya: "Oh, gitu ya, pantesan kalau lebaran disini hampir semua kaya orang kaya, sofa baru ternyata ngutang, yang penting pas lebaran penampilan mentereng, gitu toh..."

Begitulah kira-kira percakapan saya dengan teman saya kala itu. Dari sini kita jadi bisa melihat, kalau sebagian besar orang justru memaksakan diri demi mendapatkan view lebaran yang sesuai dengan keinginannya.
Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa moment lebaran bisa menciptakan keajaiban bagi sebagian orang yang kurang mampu, entah dari mana ia mendapatkannya, tetapi saat lebaran anehnya ia sanggup memenuhi standar yang ada, hal ini saya sebut standar karena paling tidak disetiap rumah ada yang namanya ketupat, opor ayam atau rendang, yang jika harus dipenuhi sehari-hari bisa mencekik leher mereka.
Secara garis besar saya akan menjadikan Pontianak sebagai satu contoh pelaksanaan tradisi lebaran yang lumayan wah jika dibandingan dengan kota tempat tinggal saya sebelumnya yaitu Balikpapan.
Sejak saya menginjakkan kaki di Pontianak kira-kira 9 tahun yang lalu, saya langsung dibuat tercengang dengan tradisi lebaran disana, lebaran di Pontianak dilakukan 1 bulan penuh selama bulan Syawal. Dan yang membuat saya tercengang adalah saat memasuki rumah-rumah mereka (dalam hal ini kebetulan saya mendatangi rumah yang perekonomiannya menengah keatas).
Setiap rumah dicat ulang dengan hiasan yang megah dan mewah, pintu dan jendela dihiasi gorden yang berlapis-lapis dan terkesan mewah, hiasan guci-guci memenuhi ruang tamu, dan disetiap ruang tamu disediakan meja khusus untuk makanan. Di meja itu tersedia kue-kue kering, minuman kaleng, air mineral ataupun sirup dengan beraneka rasa dan warna, dan satu favorit yang menjadi kebanggaan di Pontianak, kue lapis. Setiap rumah selalu menawarkan kue lapis dengan beraneka ragam cita rasa dan bentuk. Semakin rumit motif kue lapisnya semakin bangga yang punya rumah. Bahkan jika hari pertama dan kedua, tamu-tamu akan disuguhi dengan makanan-makanan khas lebaran, ada juga yang pernah menyajikan bubur padas, makanan khas dari Sambas.
Cukup berbeda dengan kota asal saya, lebaran hanya dirayakan selama 2 hari, paling lama 1 minggu, dan makanan juga tidak sebanyak dan semelimpah di Pontianak. Hiasan rumah pun tidak semewah dan sesemarak di Pontianak, kalaupun ada hanya sebagian kecil saja, biasanya kalangan orang kaya saja. Hal yang sama yaitu adanya kebiasaan memberi anak-anak kecil uang kecil (saat ini rata-rata memberi Rp 2.000,- seorang, cat. thn 2009). Di Pontianak mereka menyebutnya dengan menanggok (kaya nangkap ikan saja, ^_^).
Ah, sebetulnya saya ingin menjalani lebaran dengan biasa-biasa saja, sederhana, bersahaja dan tak perlu bermewah-mewah, tapi lingkungan sekitar saya sulit sekali memahami apa yang ada dalam fikiran saya. Saya ingin menikmati lebaran sebagai sebuah kemenangan setelah selama sebulan bisa tahan berpuasa, tahan hawa nafsu, dan sebagainya. Seorang teman malah merasa sedih setelah ramadhan berakhir, sebab ia jadi tidak bisa lagi menjalankan ibadah yg hanya bisa dilakukan saat ramadhan, yaitu tarawih.
Dari hal-hal itulah saya kadang-kadang merasa takut dengan apa yang sudah saya lakukan, apakah jika kita terlalu bersemangat dan berlebihan dalam menyambut lebaran tidak menjadi bid'ah atau malah dosa?
Orang yang sebenarnya tidak mampu untuk membeli sofa, karena lebaran jadi membeli sofa dengan kredit, dan pada akhirnya tidak sanggup membayar.
Orang yang sebenarnya bisa beramal lebih banyak tetapi demi memperindah diri dan rumah secara berlebihan malah melupakan saudara dan tetangganya yang kekurangan.
Akhir bulan ramadhan dimana kita makin harus meningkatkan ibadah justru dihabiskan dengan mencari sesuatu yang sifatnya duniawi, sang ibu sibuk berlumur tepung membuat kue sampai shalat pun terlewat, si bapak kerja mati-matian demi membelikan baju untuk anaknya, mengaji pun tak sempat, dan sang anak pun sibuk berlari-lari kesana kemari membunyikan petasan, lupa pada tarawihnya.
Kita bisa lihat di masjid-masjid beberapa hari menjelang lebaran, saf hanya 2-4 baris saja, bandingkan dengan hari pertama tarawih, saf tidak terhitung, makmum shalat sampai di teras-teras masjid.
Jika hal ini terjadi, apakah itu yang namanya wajah dari lebaran? Sedikit banyak hal ini tentu pernah terjadi pada kita.
Kita terlalu disibukkan dengan persiapan-persiapan lebaran, sehingga kita lupa pada makna yang hakiki dari Idul Fitri sendiri.
Untuk saya sekarang ini, lebaran yang penting rumah bersih, ada cukup kue untuk disajikan dan ada keikhlasan saat menyambut tamu yang datang. Tujuan lebaran bagi saya tak lebih adalah silaturahim sebab hanya pada lebaran lah setiap orang sengaja menyempatkan diri untuk saling berkunjung. Setidaknya inilah sisi positif yang sangat baik dari lebaran.
Lebaran bagi saya telah berubah selama beberapa tahun terakhir ini, berbeda dengan saya diwaktu kecil. Setidaknya hal ini bisa menjadi pembelajaran, meski hanya untuk saya seorang.





Tuesday, August 4, 2009

Kemarau, Asap, Air dan Listrik

Sudah sekitar sebulan di Pontianak nggak hujan, yah nggak pas sebulan sih, sempat hujan juga beberapa minggu lalu, tapiiiiii.... para peladang di Pontianak dan sekitarnya (Kalimantan Barat) mulai melakukan kebiasaan buruk mereka, yaitu membuka ladang baru dengan cara membakar semak-semak dan pohon.
Kenapa gue bilang buruk? Ya jelas lah, asapnya itu loh, membumbung ke angkasa ke mana-mana dan menutupi seluruh kota Pontianak dengan sukses. Akibatnya penyakit yang berkaitan dengan saluran pernafasan menjadi sesuatu yg nge-trend di Pontianak akhir-akhir ini. ISPA, batuk, pilek, radang tenggorokan, radang paru-paru, demam, bahkan sampai sakit mata segala. Belum lagi dengan kondisi cuaca yang panas, demam berdarah juga menjangkit membuat rumah sakit penuh, pasien terpaksa dirawat di lorong-lorong rumah sakit dengan kondisi seadanya.
Itu belum seberapa, dikarenakan tidak ada hujan sama sekali, menyebabkan tidak tersedianya air bersih. PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) sudah berganti nama menjadi PDAK (Perusahaan Daerah Air Kotor). Air yang keluar dari keran warnanya sudah seperti teh atau kadang-kadang malah seperti kopi susu, dan mau tidak mau kita terpaksa memakainya untuk mandi dan mencuci (air ledeng di Pontianak tidak bisa digunakan untuk minum dan memasak sebab mengandung merkuri dan tingkat asam tinggi, selain itu kondisinya juga tidak layak untuk konsumsi) sebab tidak ada alternatif lain. Hal ini belum lah seberapa, sebab ternyata air yang dari wujudnya sudah kotor tersebut ternyata berasa asin dan licin (jangan-jangan cuma disedot langsung dari sungai Kapuas oleh PDAM dan langsung disetor ke masyarakat, ih mengerikan), sabun sulit dihilangkan dari cucian dan kulit, dan bahkan untuk yang berkulit sensitif bisa menimbulkan gatal-gatal. Entahlah dari pihak PDAM (ato PDAK?) seperti tidak ada inisiatif untuk mendistribusikan air yang lebih layak untuk digunakan warga.
Jika kondisi air sudah semakin parah seperti ini (yang sepertinya sangat biasa bagi orang Pontianak) maka akan ada penyakit susulan berikutnya, yaitu muntaber.
Dan ternyata hal ini masih ada tambahannya lagi. Pihak PLN masih menambah cobaan dengan melakukan pemadaman bergilir di Pontianak yang lama pemadamannya bisa mencapai 6 jam lebih, biasanya dari pukul 17.00 sampai 23.30. Kadang-kadang dari pukul 17.00 sampai 19.30 atau saat pagi dari pukul 09.00 sampai 13.00. Atau sesuka PLN nya. Jadwal pemadaman di koran sudah tidak bisa dijadikan patokan lagi. Menurut kabar yang terdengar, pemadaman ini berkaitan dengan bulan puasa yang sebentar lagi akan kita jelang. Katanya biar pas puasa tidak ada pemadaman lagi. Lah kemarin-kemarin ga pake pemadaman segala tuh? Kok jadi bingung ya dengan kebijakan PLN ini? Ada juga yang mengatakan kalau pemadaman berkaitan dengan perawatan mesin-mesin PLN, entah mana yang benar.
Akhirnya, kalau malam disaat mati listrik, kami hanya bisa merenungi keadaan di Pontianak sambil terbatuk-batuk dan sesekali menepuki nyamuk yang hinggap di tubuh. Listrik yang padam, tanpa air bersih, asap yang makin hari makin tebal. Ah, jangan-jangan lebaran ini nggak bisa pulang lantaran bandara ditutup gara-gara pesawat nggak berani mendarat di bandara. Sedihnya.
Untukku sendiri bulan-bulan ini menjadi bulan yang terberat untuk tubuhku. Bermula dari alergi bersin-bersin akibat terhirup abu sisa asap pembakaran ladang dan hutan, dan beberapa hari kemudian demam tinggi (kaya'nya ketularan si bo chan yang udah tau lagi flu sengaja nempel-nempel terus ke aku, niat banget nularin virusnya) trus disusul dengan batuk pula. Terasa sekali langsung batuk kalau terhirup udara yang berasap + abu. Masih ditambah dengan muntah 2 kali lantaran batuk (aku punya kebiasaan kalau batuk 3 kali tanpa henti langsung seperti akan muntah). Dan yang parahnya telingaku jadi sakit gara-gara demam yang terlalu tinggi. Ya ampun, rasanya. Tahun lalu waktu puasa dan perjalanan menuju pulang ke Balikpapan juga mengalami sakit, tapi nggak parah seperti ini. Dan tadi malam, iseng aku liat kenapa gusiku terasa sakit, dan alamak, ada satu gigi geraham imut yang nongol di ujung rahang kiriku. Baru inget kalo geraham bungsuku baru numbuh 3 biji, lah ini yang 1 si penutup kok ya pake acara nongol disaat kondisi tubuhku lagi hancur-hancuran gini, sampe ga berani nelpon ke rumah, takut emak khawatir, soalnya emak juga lagi sakit. Aaaaakh.... cape deh....
Aku cuma berharap kondisi seperti ini segera berakhir di Pontianak, kondisi yang sangat nggak sehat dan menyusahkan. Dan yang cukup membuat surprise, pihak yang berwenang tidak ambil pusing sama sekali. Tidak ada upaya untuk melarang para peladang yang membakar ladang padahal mereka melakukannya di tepi jalan raya, apalagi dengan peladang yang membakar ladang di daerah terpencil sana? Waduh... Begitu juga dengan air ledeng, tidak adakah upaya untuk menyaring atau menjernihkan airnya dulu sebelum mendistribusikan ke masyarakat?
Surat pembaca di koran-koran sudah banyak sekali yang berisi keluhan tentang masalah-masalah tersebut, tapi selalu dan selalu tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, paling banter juga hanya mendapat jawaban yang diplomatis tanpa tindak lanjut.
Yah, mau bagaimana lagi, sepertinya sebelum kualitas air, udara dan listrik diperbaiki harus memperbaiki kualitas manusia-manusia disini dulu.

Thursday, July 2, 2009

SPG oh SPG (Sales Promotion Girl) II

Bagian 2

Belanjaanku Sayang Belanjaanku Hilang

Satu lagi pengalaman saya di salah satu supermarket besar di Pontianak. Kejadiannya sekitar bulan puasa tahun 2007 lalu. Ceritanya sepulang kerja saya mampir ke Hypermart yang terletak di Mega Mall Pontianak. Rencananya mau masak untuk buka puasa hari itu, menunya kerang oseng cabe hijau. Saya pun langsung sibuk memilih-milih bahan masakan yang sudah saya tulis di kertas kecil: Kerang kupas, cabe rawit, cabe keriting, cabe hijau, jahe, tomat, en bumbu-bumbu lain sudah saya masukkan ke dalam plastik-plastik kecil untuk ditimbang. Selesai menimbang saya menuju bagian coklat dan minuman, mengambil silverqueen dan 6 botol You C-1000, lumayan dapat gratis 1 botol.

Setelah selesai mengambil semua barang yang saya butuhkan, saya kemudian segera menuju kasir untuk mengantri. Di depan saya ada seorang ibu-ibu chinesse yang belanjaannya lumayan banyak. Sambil menunggu saya memperhatikan kasir yang sedang melayani ibu itu. Kasirnya seorang cewek, dia dibantu seorang cowok yang tugasnya memasukkan belanjaan ke dalam kantong plastik.Saya perhatikan si cowok itu selalu mengajak kasir cewek itu ngobrol dengan suara yang lumayan keras. Si kasir cewek masih menanggapi obrolan si cowok tapi tatapannya tetap terarah ke mesin kasir, sedangkan si cowok terus saja berkicau tiada henti tanpa memperhatikan dengan serius barang-barang yang sedang ia masukkan ke kantong plastik. Sepertinya ia sedang menggosipkan sesuatu yang seru sekali tentang temannya.

Akhirnya giliranku tiba, aku pun membantu mengeluarkan barang-barang yang kubeli dari keranjang dan si kasir langsung menghitungnya dan sedangkan si cowok yang membantunya masih saja terus heboh bercerita sedangkan si ibu didepanku tadi masih sibuk memasukkan barang belanjaannya ke dalam troly.

Proses membayar selesai, saya pun ke bagian penitipan barang untuk mengambil jaket dan bonus 1 botol You C-1000 yang memang harus diambil di sana. Tapi apa yang terjadi? Sewaktu saya membuka plastik belanjaan saya, ternyata hanya berisi 6 botol You C-1000 dan coklat Silverqueen, lho kemana belanjaanku yang lain ya? Sebenarnya sih saya juga merasa aneh sewaktu menerima kantong plastik dari si cowok di kasir itu, kantong plastiknya terasa agak ringan, berbeda dari waktu saya bawa si keranjang, tapi saat itu saya tidak berfikir apa-apa.

Saya lalu kembali ke bagian kasir dan menanyakan belanjaan saya yang lainnya, siapa tau tertinggal di sana. Begitu ketemu dengan kedua orang itu saya tunjukkan kantong plastik saya beserta struk belanjanya sekalian.

Saya :“Mba, kok belanjaan saya cuma segini, yang lainnya kemana ya?” tanya saya sambil menyerahkan struk belanja.

Kasir Cewek:“Lho tadi sudah saya hitung mba,” katanya bingung, trus dia tanya ke temen cowoknya yang tadi bantuin.

Cowok Dodol:“Oh, aku kire itu belanjaan punye ibu-ibu yang tadi tu,” katanya tanpa dosa.

Saya:Trus gimana dong nih?” tanyaku mulai merasa ga enak hati.

Cowok Dodol:“Ya sudah, saye kejar ja’ ibu-ibu tadi’”.

Kasir Cewek:“Tapi kemane? Dah jauh mungkin die,” ucap si kasir cewek

Cowok Dodol:“Aku cube lo’,” kata si cowok dodol itu sambil lari ke arah pintu depan mall.

Ga gitu lama si cowok dodol itu balik lagi.

Cowok Dodol:“Dah, ndak ade” katanya, “dah lah, ganti ja’ uangnye, pake uang kite bedua’,” katanya.

Akhirnya mereka berdua mengembalikan uang sebesar belanjaan saya yang tidak ada. Oke saya terima, jumlahnya juga tidak terlalu besar, tapi si cowok dodol itu sama sekali tidak mengucapkan kata maaf ke saya atas kelalaiannya itu. Yang minta maaf justru si kasir cewek dan kasir lainnya yang ada di dekat kasir itu, sepertinya dia tau kalau aku kesal tapi tidak bicara apa-apa.

Saat itu saya memang sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi, mau marah saja saya sudah nggak bisa, mana saya lagi puasa hari itu. Yang adalah perasaan kecewa, karena sejak siang saya sudah merencanakan akan memasak kerang oseng cabe hijau dan memakannya saat buka puasa tapi apa yang terjadi, hiks… nggak jadi. Padahal saya sudah memilih bahan-bahan masakan yang terbaik, saya pilih satu demi satu dengan cermat, huaaaa….. ternyata nggak ada gunanya. Saya benar-benar kesal dengan si cowok dodol yang kerja di Hypermart itu, kesel banget dibuatnya. Mau saya laporkan ke manajernya tapi ntar dia bisa dipecat trus saya bikin putus sumber nafkah orang lain dong. Sudahlah, saya simpan saja kesal itu di dada dan menjadikan hari itu pelajaran untuk dikemudian hari, yaitu harus langsung memeriksa kantong belanjaan saat di kasir supaya tidak terjadi lagi belanjaan yang hilang.

First release: 20 Nov 2008 in http://bluestarlely.blog.friendster.com/2008/11/cerita-spg-bagian-2/

SPG oh SPG (Sales Promotion Girl)

Selama di Pontianak ada pengalaman-pengalaman lucu, sedih, senang, nyebelin, dll. Nah salah satunya adalah pengalaman dengan para SPG/SPB di Pontianak ini. Ceritanya seru-seru, ini bagian yang pertama nih.

Bagian 1

SPG Menor VS Customer Dekil

Beberapa tahun lalu saya punya pengalaman dengan salah seorang SPG Matahari Dept. Store bareng my friend, Ratna, yang waktu itu masih kerja di Pontianak.

Ceritanya pas hari Sabtu, saya sama Ratna jalan-jalan ke Matahari Mall, waktu itu cuma ada satu mall di Pontianak, biasalah refreshing setelah seminggu kerja, kebetulan juga kita hari itu baru kelar lembur si kantor.

Saya dan Ratna berangkat ke mall pake angkot plus jalan kaki, soalnya waktu itu kami berdua belum ada yang bisa naik motor, jadinya ya gitu, penggemar angkot setia meskipun kondisi angkot di Pontianak sangat menyedihkan, nggak sebagus di Balikpapan.

Kami ke mall juga nggak kaya orang-orang Pontianak pada umumnya, yang dandan rapi ato malah habis-habisan. Mungkin karena itu mall yang pertama ada di Pontianak jadi mereka menggunakannya sebagai tempat baru buat nampang, hehehe… peace jangan marah ya orang Pontianak.

Akhirnya setelah perjalanan yang melelahkan (angkotnya muter-muter dulu) kami sampai juga di Matahari Mall. Kami langsung masuk ke bagian Matahari Dept. Store, cuci mata en liat-liat siapa tau ada barang yang bagus. Setelah muter-muter saya nemuin sebuah baju yang langsung bikin saya jatuh cinta, baju itu dipasang di manekin yang ditaruh diatas sebuah lemari pajangan yang agak tinggi, so kami cuma bisa pegang-pegang bagian bawah bajunya en ngeliat harganya doang. Dua ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah.

Tapi gitu kita muter-muter nyari stok baju itu siapa tau ada yang digantung, ternyata kita ga bisa nemuin. Kami lalu mencari SPG yang menjaga counter itu, tapi ga ada dimanapun. Akhirnya Ratna memanggil seorang SPG yang sedang ngobrol dengan temannya, temannya ini seorang SPG yang dandannya full banget, bedak tebel, lipstik kinclong, bulu mata tebel kaku kebanyakan maskara. Gitu dipanggil si mba SPG malah nyuruh temen ngobrolnya, si SPG menor ke tempat kita, rupanya si SPG menor mestinya jagain counter itu tapi dia malah ngobrol ke counter lain.

Gitu si SPG menor mendekat, terjadilah percakapan diantara kami.

Ratna :“Mba, kita mau liat baju yang dipajang di patung itu dong”

SPG Menor:“Ndak ade yang digantung ke?” dia balik nanya dengan ekspresi males, mungkin gara-gara acara ngobrolnya terpaksa kita interupsi.

Saya:“Nggak ada, udah kita cari, ada juga modelnya lain”

SPG Menor:“Tapi same jak” kayanya dia ogah buat nurunin manekin ato nyari stok si lemari.

Ratna:“ Tapi kita kan maunya yang itu,” Ratna tetep ngotot soalnya dia juga suka baju itu.

SPG Menor:“Ndak liat hargenye dulu ke?”

Ratna & Saya:langsung sebel sama SPG Menor ini. Tapi tetep bertahan sampe si SPG nurunin manekin en ngasih baju itu buat kita coba di fitting room.

Di fitting room, saya en Ratna ngedumel habis soal SPG itu. Jadi SPG kok gitu sih ngelayanin pembeli, udah ga stand bye di counternya sendiri, baru dimintain tolong dikit aja ogah-ogahan en malah ngerendahin kita-kita lagi, kayanya dia nganggep saya dan Ratna ga bakal bisa beli baju seharga itu kali. Tapi kalo dipikir-pikir penampilan kita emang jauh dari orang kaya sih. Saya sama Ratna cuma pake T-Shirt biasa, celana jeans en sandal jepit. Plus saya bawa ransel en Ratna nenteng-nenteng payung lipat yang selalu dia bawa kemana-mana. Buat mengantisipasi klo hujan katanya.

Tapi masa iya dengan dandanan sederhana gitu lantas kita dianggap ga punya duit, ih sebel deh. Meski di satu sisi ada untungnya sih, kita ga bakalan di copet ato ditodong preman di jalan, hehehe…

Saya akhirnya beli baju itu, Ratna ga jadi soalnya kesempitan buat dia. Saya beli baju itu emang karena suka dengan modelnya, warnanya hitam dan panjang sampai menutupi pinggul, kesannya elegan klo pake baju itu. Tapi disatu sisi ada juga sih perasaan sebel pengen nunjukin ke SPG itu kalo saya sanggup kok untuk beli baju seharga itu. Tapi akibatnya setiap kali ke sana en lewat counter baju itu saya jadi sebel sambil ngeliatin SPG Menor itu yang masih tetep dengan gayanya yang sok itu.

Anyway, kalo denger omelannya Ratna tuh gini soal si SPG: “Itu cewek sombong banget sih, aku sanggup kok bayar baju itu ditambah make up dia yang tebel banget itu”.

Akhirnya pengalaman hari itu jadi kami inget terus sampai sekarang. Klo kita mau belanja di tempat-tempat seperti itu jangan terlihat terlalu dekil, hehehe… dan satu lagi, jangan pernah kita meniru si SPG Menor. Jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilannya doang, bisa aja orang yang lusuh ternyata duitnya banyak. Apalagi kita sebagai PNS, tugas kita melayani masyarakat. Kita harus bisa menempatkan orang yang kita layani di tempat yang terbaik siapa pun dia dan bagaimanapun keadaannya. Pelayanan Prima dooong.

First release: 20 Nov 2008 in http://bluestarlely.blog.friendster.com/2008/11/spg-oh-spg-sales-promotion-girl/

Roman Picisan

Roman Picisan

By Dewa

tatap matamu bagai busur panah
yg kau lepaskan ke jantung hatiku
meski kau simpan cintamu masih
dekap nafasmu wangi hiasi suasana
saat ku kecup manis bibirmu

reff:

cintaku tak harus miliki dirimu
meski perih mengiris-iris segala janji

aku berdansa di ujung gelisah
diiringi syahdu lembut lakumu
kau sebar benih anggun jiwamu
namun kau tiada menuai buah cintaku
yg ada hanya sekuntum rindu

repeat reff

malam-malamku bagai malam seribu bintang
yang terbentang di angkasa bila kau disini
‘tuk sekedar menemani, ’tuk melintasi wangi
yang s’lalu tersaji di satu sisi hati

Cinta tak harus memiliki, kalau orang bilang elo munafik nggak masalah.

Kadang-kadang kita perlu untuk tidak memiliki cinta itu agar ia tetap terpatri indah di dalam hati hanya untuk dikenang.

Agar suatu saat nanti kita bisa belajar untuk mencintai lebih indah lagi dari cinta sebelumnya.

Agar kita bisa menjadi dewasa dalam menemukan cinta yang sesungguhnya

Agar hati nurani kita tidak perlu diracuni oleh hawa nafsu atau keegoisan sesaat.

Agar kita bisa belajar untuk menemukan jalan yang benar, tanpa harus ragu dengan berbagai pilihan yang ada.

Karena cinta kepada manusia hanyalah cinta yang FANA, meski ia bisa menyentuh hatimu.

Karena cinta kepada manusia hanyalah cinta yang SEMU, meski tampak nyata di depan mata.

Karena cinta kepada manusia hanyalah cinta yang SESAAT, meski begitu lamanya dirimu hidup di dunia.

Dan akhirnya kita pun sadar, jika hanya ada satu cinta yang hakiki.

Bukan cinta yang membara seperti cintamu kepada kekasihmu.

Bukan cinta yang tulus kepada sahabatmu.

Bukan pula cinta suci seorang ibu pada anaknya.

Tapi cintamu kepada Yang Satu.

ALLAH SWT. Subhanallah

Cinta yang tak kan pernah habis dan mati seperti tubuh kita yang makin rapuh hari demi hari.

Dan taukah kamu kalau cinta ALLAH SWT kepada umatnya lebih besar dari cinta umatnya kepada DIA?

Lalu, tegakah engkau untuk mengkhianati cinta yang begitu agung itu?


First release: 29 Oktober 2008 in http://bluestarlely.blog.friendster.com/2008/10/roman-picisan/

Konnichiwa

Yuk, belajar nulis, nulis apa aja yg penting asyik en nyenengin buat dibaca, klo bisa yg informatif juga, nah loh, klo ada tulisan di blog saya ini boleh di copy kok, tapi atas seijin saya yah.....