Monday, October 12, 2009

Seandainya......


Sudah 9 tahun lebih aku tinggal di Pontianak. Ga kerasa juga ya, dari yang dulu super duper ga betah, trus jadi putus asa (soalnya ga bakal bisa pindah dari sini) sampai akhirnya dengan pasrah menerima keadaan ini, hiks.
Dari dulu tuh aku sering banget berandai-andai. Andai aku bisa pindah dari Pontianak, andai aku bisa kerja di tempat lain selain di Kalimantan Barat ini, dan banyak andai-andai lainnya tentang TIDAK berada di Pontianak ini.
Berandai-andai itu memang menyenangkan dan mengasyikkan, biarpun tau ga mungkin kesampaian tapi tetep asyik aja, yah mo gimana coba, dipaksain juga ga mungkin.
Nah kalau sekarang, berhubung udah ga mungkin kemana-mana lagi, andai-andainya tuh berubah jadi gini:
Seandainya di Pontianak ini ga da asap kebarakan hutan yang tiap tahun terjadual HARUS ada sampe udah kaya minum obat aja;
Seandainya di Pontianak ini air PDAM nya nggak butek dan nggak ASIN klo sudah musim kemarau;
Seandainya cuaca di Pontianak ini nggak puanaaaaas banget (yang kayanya malah jadi kebanggan di Pontianak, soalnya disini dilalui garis khatulistiwa, halah, aku jadi bingung kok jadi dibanggain ya klo akibatnya malah panas gitu?);
Seandainya di Pontianak ini pengendara motornya nggak brutal-brutal dan nggak hobi melanggar peraturan lalu lintas (udah gitu ajaib banget, anak SD sudah bawa motor kemana-mana, ga pake helm pula, cek, cek, cek);
Seandainya di Pontianak ini perkembangan kotanya kaya di Balikpapan;
Seandainya di Pontianak ini orang-orangnya ga terlalu gampang emosian (liat deh kasus pembantaian manusia beberapa tahun lalu);
Mungkin aku bakalan betah tinggal di Pontianak sini.
Yah, namanya juga berandai-andai. Dan kayanya semua keinginan gue tadi ga bakal mungkin bisa terjadi, kecuali Allah menurunkan keajaiban, hehe...amin.
Klo secara normal gimana coba caranya? Masa sebagian besar penduduk Pontianak harus dibunuh dulu biar para pelanggar dan perusak Pontianak hilang dari muka bumi.
Dan akhirnya, kembali ke awal lagi, mulai dengan berandai-andai lagi.......

Thursday, October 8, 2009

Bohong


Wah, gue hari ini puasa, tapi kok ya aku mesti bohong ya? Ini nih, gara-gara temen minjem namaku untuk ngutang di Adira. Nah loh, pas orang Adira nya nelpon ke nomorku trus nanya-nanya soal barang yang mo dibeli, seperti biasa aku jadi kagok en bingung gitu tapi tetep berusaha tenang. Halah, nah pas ditanyain hubungan aku sm Kar******i, ku jawab aja temen, trus dia balik nanya, bukan sepupu ya? Huaaaa.... gue kaget, trus langsung pura-pura ngeles, eh saya kedengarannya Yandi, nah loh klo yg itu temen. Trus orangnya bilang bakal konfirmasi lagi klo udah di oke in, nah habis itu akunya jadi bengong sendiri (trus nulis di blog ini). Yah, puasaku hari ini barokah ga ya? Sah ga ya? Huaaa..... kebayang deh klo aku jadi Pinokio, hidungku sudah sepanjang apa ya?
Cabe deh.....

Tuesday, October 6, 2009

Spaghetti Simple Asal Jadi

Ini nih gara-gara pas mudik lebaran kemarin disuguhin spaghetti sama temen, si Ratna, akhirnya pas udah di Pontianak jadi pingin masak spaghetti sendiri deh. Dengan berbekal browsing di internet akhirnya gue memberanikan diri untuk mengolah masakan khas Italia itu. Bumbu yang saya gunakan pun sekedarnya, soalnya pas mo nyari bumbu yg lengkap eh malah hujan, yah langsung pulang aja deh en memanfaatkan bumbu yg ada di lemari. Dan sebetulnya kurang lebih bumbu saya adopsi dari resep Spaghetti Bolognaise. Pas disuguhin sama temen kemarin, spaghetti nya agak bingung saya, soalnya baru sekali itu makan spaghetti dikuahin banyak kaya mie rebus gitu, hehe.. ya udah, klo yang satu ini mendekati yang orisinil lah.

Spaghetti Udang ala Lely

Bahan:
150 gram Spaghetti
1000 ml Air untuk merebus
1-2 sendok makan Olive Oil (berhubung ga punya saya pake minyak goreng biasa aja)
1 sendok teh Garam
100 gram Udang kupas potong-potong atau bs juga utuh saja

Bumbu:
1 buah Bawang Bombay, yg kecil aja, diiris
3 siung Bawang Putih digeprak lalu cincang kasar
3-4 buahTomat yang matang dicincang halus ato diblender
4 sendok makan Saos Tomat
1 sendok makan Saos Sambal (untuk yg suka pedas bisa ditambah)
Merica secukupnya
Garam secukupnya
1/2 sendok teh Oregano
1/2 sendok teh Basil
Margarin ato minyak goreng untuk menumis
Air kaldu sedikit saja jika ingin saus spaghettinya lebih basah
Daun bawang & seledri untuk taburan
Keju parut (saya ga pake soalnya ga gitu suka)

Cara Membuat:
  1. Rebus air, garam, dan olive oil sampai mendidih, lalu masukkan spaghetti, masak sampai matang. Tiriskan
  2. Tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum, masukkan udang, masak hingga udang berwarna agak kemerahan tp jgn terlalu matang. Masukkan tomat, aduk2 hingga tomat hancur, masukkan saos tomat, dan saos sambal, oregano, basil, garam, merica, dan sedikit air kaldu jika suka, masak hingga mendidih dan saus mengental.
  3. Siapkan piring, letakkan spaghetti lalu tuangkan saus yg sudah matang diatasnya, taburi daun bawang dan seledri. Terakhir taburi keju parut.
Untuk 2 porsi.

Catatan:
Di beberapa daerah mungkin sulit mendapatkan oregano dan basil, ga dipake jg ga masalah, tetep enak kok.
Untuk kaldu klo ga da kaldu ga pake jg ga papa ato bs pake kaldu bubuk misal royko atau masako yg dicampur air panas.
Sebagian orang suka memasukkan spaghetti langsung ke sausnya, ga masalah, seusai selera aja.

Nah gitu deh, resep asal buat yang udah kupraktekin. Hmm, jadi pingin bikin spaghetti sapi lada hitam nih.

Monday, September 21, 2009

Lebaran, Sebuah Simbol Pesta Pora atau Ungkapan Rasa Syukur Setelah Ramadhan?

Lebaran merupakan suatu tradisi yang ada di Indonesia, Nabi Muhammad sendiri tidak merayakan lebaran seperti kita, yang ada Nabi menjalankan shalat Ied seperti layaknya shalat sunah lainnya, dan kembali ke rumah seperti biasa, sedangkan tradisi berpesta dan bermaaf-maafan hanya dibuat oleh orang Indonesia saja. Bahkan kalau ada yang bertengkar mereka akan bilang "Ntar aja ah maafannya kalau sudah lebaran". Wah, padahal Islam tidak mengajarkan seperti itu, meminta maaf justru harus dilakukan saat itu juga dan bukan menundanya saat ada moment-moment tertentu seperti lebaran misalnya.
Sebagian besar agama penduduk Indonesia adalah islam, namun terasa sekali jika pemahaman yang dimiliki masyarakat muslim Indonesia masih sedikit sekali. Kebanyakan berpatokan pada keputusan dan ungkapan kyai atau ustadz yang sebagai manusia tentu saja bisa salah tetapi pemahaman tersebut sudah dianggap sebagai sesuatu yang betul dan malas untuk membetulkannya. Contohnya saja saat lebaran ada ucapan Minal 'Aidin Wal Faizin. Ucapan ini biasanya diartikan sebagai Mohon Maaf Lahir Batin karena kalimat ini mengikuti ucapan setelah Minal 'Aidin Wal Faizin, belum lagi penulisan ejaan yang salah. Tetapi saya tidak akan membahas tentang penulisan dan pemahaman yang salah tentang ucapan lebaran, saya yakin di blog-blog lain sudah banyak ditulis tentang hal ini dengan pembahasan yang lebih rinci dan jelas.
Saya hanya tertarik menatap lebaran sebagai simbol dari berakhirnya bulan ramadhan.
Kita bisa melihat ke sekeliling kita, termasuk juga di rumah emak saya. Setiap lebaran menjelang setiap rumah menjadi sibuk, sibuk ke pasar untuk membeli ketupat dan bahan makanan lainnya, sibuk ke toko dan mall untuk membeli pakaian baru atau mukena dan sarung baru, sibuk membuat kue dan penganan untuk disajikan di meja sebanyak-banyaknya, sibuk mempercantik rumah dengan cat mengkilat, furniture baru dan gorden baru, sibuk menanti THR dari kantor, atasan, rekanan atau parsel dari relasi. Kita bisa melihat kalau seminggu menjelang lebaran kita justru lebih banyak melihat manusia berada di pasar dan mall ketimbang di masjid. Membayar zakat pun dilakukan di malam terakhir dan bahkan hampir terlupa. Apakah hal ini yang sesungguhnya diharapkan oleh Allah SWT?
Seorang teman yang bekerja pada perusahaan pemberi kredit yang cukup terkenal di Pontianak pernah sedikit curhat kepada saya.

Teman: "Mba, klo lagi lebaran gini di kantor sibuk, orang-orang banyak yang masukin aplikasi"
Saya: "O ya? Orang Pontianak kaya-kaya dong," ungkap saya sambil lalu.
Teman: "Nggak juga sih, klo sebulan sesudah lebaran bagian penagihan dan sita justru lebih sibuk"
Saya: "Wah, banyak yang ga sanggup bayar ya?" tanya saya mulai antusias.
Teman: "Iya, biasalah orang sini, klo lebaran kredit sofa baru, cuma untuk dipajang pas lebaran, gitu lebaran selesai ga sanggup bayar, ya terpaksa di tarik lg barangnya."
Saya: "Oh, gitu ya, pantesan kalau lebaran disini hampir semua kaya orang kaya, sofa baru ternyata ngutang, yang penting pas lebaran penampilan mentereng, gitu toh..."

Begitulah kira-kira percakapan saya dengan teman saya kala itu. Dari sini kita jadi bisa melihat, kalau sebagian besar orang justru memaksakan diri demi mendapatkan view lebaran yang sesuai dengan keinginannya.
Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa moment lebaran bisa menciptakan keajaiban bagi sebagian orang yang kurang mampu, entah dari mana ia mendapatkannya, tetapi saat lebaran anehnya ia sanggup memenuhi standar yang ada, hal ini saya sebut standar karena paling tidak disetiap rumah ada yang namanya ketupat, opor ayam atau rendang, yang jika harus dipenuhi sehari-hari bisa mencekik leher mereka.
Secara garis besar saya akan menjadikan Pontianak sebagai satu contoh pelaksanaan tradisi lebaran yang lumayan wah jika dibandingan dengan kota tempat tinggal saya sebelumnya yaitu Balikpapan.
Sejak saya menginjakkan kaki di Pontianak kira-kira 9 tahun yang lalu, saya langsung dibuat tercengang dengan tradisi lebaran disana, lebaran di Pontianak dilakukan 1 bulan penuh selama bulan Syawal. Dan yang membuat saya tercengang adalah saat memasuki rumah-rumah mereka (dalam hal ini kebetulan saya mendatangi rumah yang perekonomiannya menengah keatas).
Setiap rumah dicat ulang dengan hiasan yang megah dan mewah, pintu dan jendela dihiasi gorden yang berlapis-lapis dan terkesan mewah, hiasan guci-guci memenuhi ruang tamu, dan disetiap ruang tamu disediakan meja khusus untuk makanan. Di meja itu tersedia kue-kue kering, minuman kaleng, air mineral ataupun sirup dengan beraneka rasa dan warna, dan satu favorit yang menjadi kebanggaan di Pontianak, kue lapis. Setiap rumah selalu menawarkan kue lapis dengan beraneka ragam cita rasa dan bentuk. Semakin rumit motif kue lapisnya semakin bangga yang punya rumah. Bahkan jika hari pertama dan kedua, tamu-tamu akan disuguhi dengan makanan-makanan khas lebaran, ada juga yang pernah menyajikan bubur padas, makanan khas dari Sambas.
Cukup berbeda dengan kota asal saya, lebaran hanya dirayakan selama 2 hari, paling lama 1 minggu, dan makanan juga tidak sebanyak dan semelimpah di Pontianak. Hiasan rumah pun tidak semewah dan sesemarak di Pontianak, kalaupun ada hanya sebagian kecil saja, biasanya kalangan orang kaya saja. Hal yang sama yaitu adanya kebiasaan memberi anak-anak kecil uang kecil (saat ini rata-rata memberi Rp 2.000,- seorang, cat. thn 2009). Di Pontianak mereka menyebutnya dengan menanggok (kaya nangkap ikan saja, ^_^).
Ah, sebetulnya saya ingin menjalani lebaran dengan biasa-biasa saja, sederhana, bersahaja dan tak perlu bermewah-mewah, tapi lingkungan sekitar saya sulit sekali memahami apa yang ada dalam fikiran saya. Saya ingin menikmati lebaran sebagai sebuah kemenangan setelah selama sebulan bisa tahan berpuasa, tahan hawa nafsu, dan sebagainya. Seorang teman malah merasa sedih setelah ramadhan berakhir, sebab ia jadi tidak bisa lagi menjalankan ibadah yg hanya bisa dilakukan saat ramadhan, yaitu tarawih.
Dari hal-hal itulah saya kadang-kadang merasa takut dengan apa yang sudah saya lakukan, apakah jika kita terlalu bersemangat dan berlebihan dalam menyambut lebaran tidak menjadi bid'ah atau malah dosa?
Orang yang sebenarnya tidak mampu untuk membeli sofa, karena lebaran jadi membeli sofa dengan kredit, dan pada akhirnya tidak sanggup membayar.
Orang yang sebenarnya bisa beramal lebih banyak tetapi demi memperindah diri dan rumah secara berlebihan malah melupakan saudara dan tetangganya yang kekurangan.
Akhir bulan ramadhan dimana kita makin harus meningkatkan ibadah justru dihabiskan dengan mencari sesuatu yang sifatnya duniawi, sang ibu sibuk berlumur tepung membuat kue sampai shalat pun terlewat, si bapak kerja mati-matian demi membelikan baju untuk anaknya, mengaji pun tak sempat, dan sang anak pun sibuk berlari-lari kesana kemari membunyikan petasan, lupa pada tarawihnya.
Kita bisa lihat di masjid-masjid beberapa hari menjelang lebaran, saf hanya 2-4 baris saja, bandingkan dengan hari pertama tarawih, saf tidak terhitung, makmum shalat sampai di teras-teras masjid.
Jika hal ini terjadi, apakah itu yang namanya wajah dari lebaran? Sedikit banyak hal ini tentu pernah terjadi pada kita.
Kita terlalu disibukkan dengan persiapan-persiapan lebaran, sehingga kita lupa pada makna yang hakiki dari Idul Fitri sendiri.
Untuk saya sekarang ini, lebaran yang penting rumah bersih, ada cukup kue untuk disajikan dan ada keikhlasan saat menyambut tamu yang datang. Tujuan lebaran bagi saya tak lebih adalah silaturahim sebab hanya pada lebaran lah setiap orang sengaja menyempatkan diri untuk saling berkunjung. Setidaknya inilah sisi positif yang sangat baik dari lebaran.
Lebaran bagi saya telah berubah selama beberapa tahun terakhir ini, berbeda dengan saya diwaktu kecil. Setidaknya hal ini bisa menjadi pembelajaran, meski hanya untuk saya seorang.





Tuesday, August 4, 2009

Kemarau, Asap, Air dan Listrik

Sudah sekitar sebulan di Pontianak nggak hujan, yah nggak pas sebulan sih, sempat hujan juga beberapa minggu lalu, tapiiiiii.... para peladang di Pontianak dan sekitarnya (Kalimantan Barat) mulai melakukan kebiasaan buruk mereka, yaitu membuka ladang baru dengan cara membakar semak-semak dan pohon.
Kenapa gue bilang buruk? Ya jelas lah, asapnya itu loh, membumbung ke angkasa ke mana-mana dan menutupi seluruh kota Pontianak dengan sukses. Akibatnya penyakit yang berkaitan dengan saluran pernafasan menjadi sesuatu yg nge-trend di Pontianak akhir-akhir ini. ISPA, batuk, pilek, radang tenggorokan, radang paru-paru, demam, bahkan sampai sakit mata segala. Belum lagi dengan kondisi cuaca yang panas, demam berdarah juga menjangkit membuat rumah sakit penuh, pasien terpaksa dirawat di lorong-lorong rumah sakit dengan kondisi seadanya.
Itu belum seberapa, dikarenakan tidak ada hujan sama sekali, menyebabkan tidak tersedianya air bersih. PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) sudah berganti nama menjadi PDAK (Perusahaan Daerah Air Kotor). Air yang keluar dari keran warnanya sudah seperti teh atau kadang-kadang malah seperti kopi susu, dan mau tidak mau kita terpaksa memakainya untuk mandi dan mencuci (air ledeng di Pontianak tidak bisa digunakan untuk minum dan memasak sebab mengandung merkuri dan tingkat asam tinggi, selain itu kondisinya juga tidak layak untuk konsumsi) sebab tidak ada alternatif lain. Hal ini belum lah seberapa, sebab ternyata air yang dari wujudnya sudah kotor tersebut ternyata berasa asin dan licin (jangan-jangan cuma disedot langsung dari sungai Kapuas oleh PDAM dan langsung disetor ke masyarakat, ih mengerikan), sabun sulit dihilangkan dari cucian dan kulit, dan bahkan untuk yang berkulit sensitif bisa menimbulkan gatal-gatal. Entahlah dari pihak PDAM (ato PDAK?) seperti tidak ada inisiatif untuk mendistribusikan air yang lebih layak untuk digunakan warga.
Jika kondisi air sudah semakin parah seperti ini (yang sepertinya sangat biasa bagi orang Pontianak) maka akan ada penyakit susulan berikutnya, yaitu muntaber.
Dan ternyata hal ini masih ada tambahannya lagi. Pihak PLN masih menambah cobaan dengan melakukan pemadaman bergilir di Pontianak yang lama pemadamannya bisa mencapai 6 jam lebih, biasanya dari pukul 17.00 sampai 23.30. Kadang-kadang dari pukul 17.00 sampai 19.30 atau saat pagi dari pukul 09.00 sampai 13.00. Atau sesuka PLN nya. Jadwal pemadaman di koran sudah tidak bisa dijadikan patokan lagi. Menurut kabar yang terdengar, pemadaman ini berkaitan dengan bulan puasa yang sebentar lagi akan kita jelang. Katanya biar pas puasa tidak ada pemadaman lagi. Lah kemarin-kemarin ga pake pemadaman segala tuh? Kok jadi bingung ya dengan kebijakan PLN ini? Ada juga yang mengatakan kalau pemadaman berkaitan dengan perawatan mesin-mesin PLN, entah mana yang benar.
Akhirnya, kalau malam disaat mati listrik, kami hanya bisa merenungi keadaan di Pontianak sambil terbatuk-batuk dan sesekali menepuki nyamuk yang hinggap di tubuh. Listrik yang padam, tanpa air bersih, asap yang makin hari makin tebal. Ah, jangan-jangan lebaran ini nggak bisa pulang lantaran bandara ditutup gara-gara pesawat nggak berani mendarat di bandara. Sedihnya.
Untukku sendiri bulan-bulan ini menjadi bulan yang terberat untuk tubuhku. Bermula dari alergi bersin-bersin akibat terhirup abu sisa asap pembakaran ladang dan hutan, dan beberapa hari kemudian demam tinggi (kaya'nya ketularan si bo chan yang udah tau lagi flu sengaja nempel-nempel terus ke aku, niat banget nularin virusnya) trus disusul dengan batuk pula. Terasa sekali langsung batuk kalau terhirup udara yang berasap + abu. Masih ditambah dengan muntah 2 kali lantaran batuk (aku punya kebiasaan kalau batuk 3 kali tanpa henti langsung seperti akan muntah). Dan yang parahnya telingaku jadi sakit gara-gara demam yang terlalu tinggi. Ya ampun, rasanya. Tahun lalu waktu puasa dan perjalanan menuju pulang ke Balikpapan juga mengalami sakit, tapi nggak parah seperti ini. Dan tadi malam, iseng aku liat kenapa gusiku terasa sakit, dan alamak, ada satu gigi geraham imut yang nongol di ujung rahang kiriku. Baru inget kalo geraham bungsuku baru numbuh 3 biji, lah ini yang 1 si penutup kok ya pake acara nongol disaat kondisi tubuhku lagi hancur-hancuran gini, sampe ga berani nelpon ke rumah, takut emak khawatir, soalnya emak juga lagi sakit. Aaaaakh.... cape deh....
Aku cuma berharap kondisi seperti ini segera berakhir di Pontianak, kondisi yang sangat nggak sehat dan menyusahkan. Dan yang cukup membuat surprise, pihak yang berwenang tidak ambil pusing sama sekali. Tidak ada upaya untuk melarang para peladang yang membakar ladang padahal mereka melakukannya di tepi jalan raya, apalagi dengan peladang yang membakar ladang di daerah terpencil sana? Waduh... Begitu juga dengan air ledeng, tidak adakah upaya untuk menyaring atau menjernihkan airnya dulu sebelum mendistribusikan ke masyarakat?
Surat pembaca di koran-koran sudah banyak sekali yang berisi keluhan tentang masalah-masalah tersebut, tapi selalu dan selalu tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, paling banter juga hanya mendapat jawaban yang diplomatis tanpa tindak lanjut.
Yah, mau bagaimana lagi, sepertinya sebelum kualitas air, udara dan listrik diperbaiki harus memperbaiki kualitas manusia-manusia disini dulu.

Konnichiwa

Yuk, belajar nulis, nulis apa aja yg penting asyik en nyenengin buat dibaca, klo bisa yg informatif juga, nah loh, klo ada tulisan di blog saya ini boleh di copy kok, tapi atas seijin saya yah.....