Tuesday, August 4, 2009

Kemarau, Asap, Air dan Listrik

Sudah sekitar sebulan di Pontianak nggak hujan, yah nggak pas sebulan sih, sempat hujan juga beberapa minggu lalu, tapiiiiii.... para peladang di Pontianak dan sekitarnya (Kalimantan Barat) mulai melakukan kebiasaan buruk mereka, yaitu membuka ladang baru dengan cara membakar semak-semak dan pohon.
Kenapa gue bilang buruk? Ya jelas lah, asapnya itu loh, membumbung ke angkasa ke mana-mana dan menutupi seluruh kota Pontianak dengan sukses. Akibatnya penyakit yang berkaitan dengan saluran pernafasan menjadi sesuatu yg nge-trend di Pontianak akhir-akhir ini. ISPA, batuk, pilek, radang tenggorokan, radang paru-paru, demam, bahkan sampai sakit mata segala. Belum lagi dengan kondisi cuaca yang panas, demam berdarah juga menjangkit membuat rumah sakit penuh, pasien terpaksa dirawat di lorong-lorong rumah sakit dengan kondisi seadanya.
Itu belum seberapa, dikarenakan tidak ada hujan sama sekali, menyebabkan tidak tersedianya air bersih. PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) sudah berganti nama menjadi PDAK (Perusahaan Daerah Air Kotor). Air yang keluar dari keran warnanya sudah seperti teh atau kadang-kadang malah seperti kopi susu, dan mau tidak mau kita terpaksa memakainya untuk mandi dan mencuci (air ledeng di Pontianak tidak bisa digunakan untuk minum dan memasak sebab mengandung merkuri dan tingkat asam tinggi, selain itu kondisinya juga tidak layak untuk konsumsi) sebab tidak ada alternatif lain. Hal ini belum lah seberapa, sebab ternyata air yang dari wujudnya sudah kotor tersebut ternyata berasa asin dan licin (jangan-jangan cuma disedot langsung dari sungai Kapuas oleh PDAM dan langsung disetor ke masyarakat, ih mengerikan), sabun sulit dihilangkan dari cucian dan kulit, dan bahkan untuk yang berkulit sensitif bisa menimbulkan gatal-gatal. Entahlah dari pihak PDAM (ato PDAK?) seperti tidak ada inisiatif untuk mendistribusikan air yang lebih layak untuk digunakan warga.
Jika kondisi air sudah semakin parah seperti ini (yang sepertinya sangat biasa bagi orang Pontianak) maka akan ada penyakit susulan berikutnya, yaitu muntaber.
Dan ternyata hal ini masih ada tambahannya lagi. Pihak PLN masih menambah cobaan dengan melakukan pemadaman bergilir di Pontianak yang lama pemadamannya bisa mencapai 6 jam lebih, biasanya dari pukul 17.00 sampai 23.30. Kadang-kadang dari pukul 17.00 sampai 19.30 atau saat pagi dari pukul 09.00 sampai 13.00. Atau sesuka PLN nya. Jadwal pemadaman di koran sudah tidak bisa dijadikan patokan lagi. Menurut kabar yang terdengar, pemadaman ini berkaitan dengan bulan puasa yang sebentar lagi akan kita jelang. Katanya biar pas puasa tidak ada pemadaman lagi. Lah kemarin-kemarin ga pake pemadaman segala tuh? Kok jadi bingung ya dengan kebijakan PLN ini? Ada juga yang mengatakan kalau pemadaman berkaitan dengan perawatan mesin-mesin PLN, entah mana yang benar.
Akhirnya, kalau malam disaat mati listrik, kami hanya bisa merenungi keadaan di Pontianak sambil terbatuk-batuk dan sesekali menepuki nyamuk yang hinggap di tubuh. Listrik yang padam, tanpa air bersih, asap yang makin hari makin tebal. Ah, jangan-jangan lebaran ini nggak bisa pulang lantaran bandara ditutup gara-gara pesawat nggak berani mendarat di bandara. Sedihnya.
Untukku sendiri bulan-bulan ini menjadi bulan yang terberat untuk tubuhku. Bermula dari alergi bersin-bersin akibat terhirup abu sisa asap pembakaran ladang dan hutan, dan beberapa hari kemudian demam tinggi (kaya'nya ketularan si bo chan yang udah tau lagi flu sengaja nempel-nempel terus ke aku, niat banget nularin virusnya) trus disusul dengan batuk pula. Terasa sekali langsung batuk kalau terhirup udara yang berasap + abu. Masih ditambah dengan muntah 2 kali lantaran batuk (aku punya kebiasaan kalau batuk 3 kali tanpa henti langsung seperti akan muntah). Dan yang parahnya telingaku jadi sakit gara-gara demam yang terlalu tinggi. Ya ampun, rasanya. Tahun lalu waktu puasa dan perjalanan menuju pulang ke Balikpapan juga mengalami sakit, tapi nggak parah seperti ini. Dan tadi malam, iseng aku liat kenapa gusiku terasa sakit, dan alamak, ada satu gigi geraham imut yang nongol di ujung rahang kiriku. Baru inget kalo geraham bungsuku baru numbuh 3 biji, lah ini yang 1 si penutup kok ya pake acara nongol disaat kondisi tubuhku lagi hancur-hancuran gini, sampe ga berani nelpon ke rumah, takut emak khawatir, soalnya emak juga lagi sakit. Aaaaakh.... cape deh....
Aku cuma berharap kondisi seperti ini segera berakhir di Pontianak, kondisi yang sangat nggak sehat dan menyusahkan. Dan yang cukup membuat surprise, pihak yang berwenang tidak ambil pusing sama sekali. Tidak ada upaya untuk melarang para peladang yang membakar ladang padahal mereka melakukannya di tepi jalan raya, apalagi dengan peladang yang membakar ladang di daerah terpencil sana? Waduh... Begitu juga dengan air ledeng, tidak adakah upaya untuk menyaring atau menjernihkan airnya dulu sebelum mendistribusikan ke masyarakat?
Surat pembaca di koran-koran sudah banyak sekali yang berisi keluhan tentang masalah-masalah tersebut, tapi selalu dan selalu tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, paling banter juga hanya mendapat jawaban yang diplomatis tanpa tindak lanjut.
Yah, mau bagaimana lagi, sepertinya sebelum kualitas air, udara dan listrik diperbaiki harus memperbaiki kualitas manusia-manusia disini dulu.

Konnichiwa

Yuk, belajar nulis, nulis apa aja yg penting asyik en nyenengin buat dibaca, klo bisa yg informatif juga, nah loh, klo ada tulisan di blog saya ini boleh di copy kok, tapi atas seijin saya yah.....